Guru dan Pelatih
Mekar Bhuana berbangga hati dapat bekerja dengan guru-guru yang paling berbakat di bidang kesenian Bali klasik. Guru-guru senior kami ini merupakan para ahli dibidangnya dan di beberapa hal mewakili generasi yang tetap hidup yang masih mengetahui gending-gending yang mereka pelajari dari seniman tua.
Untungnya, kami telah melakukan usaha-usaha untuk mengajak guru-guru yang berpengalaman, berbakat dan, yang paling penting, begitu antusias sebagai harapan generasi muda sekarang yang mencintai kesenian-kesenian yang hampir punah ini.
I Wayan Mandra – Pelegongan / Bebarongan
Merupakan murid dari Kecug, seniman terkenal dari Kelandis Denpasar, Mandra mempelajari Pelegongan di seluruh daerah di Sanur sejak tahun 1960an. Berasal dari Br. Singgi, Sanur, beliau merupakan salah satu dari sedikit penabuh yang masih mengingat gending-gending daerah Kelandis yang disebutkan oleh etnomusikolog, Colin McPhee dalam karya besarnya yang berjudul House in Bali. Tidak diragukan lagi Mandra adalah salah satu pemain kendang yang paling berbakat di daerah Sanur
I Made Sumara – Semara Pagulingan
Pak Dek adalah seorang pelatih kendang dan Pelegongan yang berpengalaman yang berasal dari Pagan Kelod. Beliau juga banyak mengajar grup gamelan di berbagai daerah di Denpasar. Pengetahuannya tentang pola kotekan gending-gending Semara Pagulingan kuno sangatlah penting bagi rekonstruksi gaya pukulan yang hampir terlupakan ini.
I Wayan Sadera – Gender Wayang & Tingklik
Sadera, pelatih gamelan termuda kami dari Teges Kanginan, Peliatan, merupakan seorang ahli gender dan tingklik. Dia adalah salah satu dari dua orang penabuh dari desanya yang masih bisa memainkan gaya pukulan Gender Wayang Teges yang masih kuno. Teknik pengajarannya yang metodis membuat belajar gamelan menjadi jelas dan mudah dipahami, bahkan yang paling sulit sekalipun.

I Wayan Diana – Kendang
I Wayan Diana, yang lebih dikenal dengan panggilan ‘Nana’, adalah seorang pemain kendang muda dan berbakat dari Batubulan. Merupakan lulusan ISI, Nana memiliki pengetahuan yang luas tentang gaya kekendangan yang telah ia kembangkan sejak ikut Mekar Bhuana pada tahun 2008. Pada bulan Januari 2010, ia keluar sebagai juara pertama dalam kompetisi kendang jauk yang bergengsi di wilayah Kota Denpasar.

A.A Gede Bawa – Gender Wayang & Tingklik
Gung Bawa adalah guru tingklik kami. Berasal dari Tatiapi, Pejeng, ia telah bermain gamelan bambu sejak duduk di bangku SD.
Siswa kami suka belajar gamelan dengan Gung karena kesabaran dan keramahtamahannya dalam mengajar.
I Nyoman Suwida – Genggong & Suling
Seorang penabuh yang berpengalaman sekaligus anggota lama Balawan Batuan Ethnic Fusion, Suwida adalah seorang ahli rebab dan suling Bali.
Suwida juga sering sekali tampil di luar negeri.
I.G.A. Susilawati – Legong
“Ibu Agung”, begitulah beliau biasa dipanggil oleh murid-muridnya, adalah salah satu penari Lotring yang patut dihargai. Sekarang menjadi guru senior di SMK3 (dulunya SMKI/KOKAR), beliau sangat terkenal di kalangan murid-muridnya yang berasal dari luar negeri yang ingin belajar gaya Legong yang kuno. Beliau mengetahui delapan tema Legong yang berbeda serta bisa mengajar tarian Gambuh kuno. Beliau sering diundang menari ke luar negeri sejak tahun 1969 dan di tahun 1994, beliau dianugerahi Penghargaan Seni Kerti Budaya di bidang seni tari.
Putu Evie Suyadnyani – Legong
Muda belia dan berbakat alam, Evie dilatih secara langsung oleh mendiang Ni Reneng dari Kedaton serta I.G.A. Susilawati. Dia pernah memenangkan juara pertama kompetisi Legong Condong bergengsi se-daerah Bali pada tahun 1993 dan telah mengajar tari sejak duduk di bangku SMP. Evie memiliki banyak pengalaman dalam mengajar orang asing sekaligus menari dan bermain gamelan di luar negeri.
Sadera, pelatih gamelan termuda kami dari Teges Kanginan, Peliatan, merupakan seorang ahli gender dan tingklik. Dia adalah salah satu dari dua orang penabuh dari desanya yang masih bisa memainkan gaya pukulan Gender Wayang Teges yang masih kuno. Teknik pengajarannya yang metodis membuat belajar gamelan menjadi jelas dan mudah dipahami, bahkan yang paling sulit sekalipun.




